Detail Berita


Garam Himalaya, Mineral Tambang Murah yang Jadi Rebutan


"Gamram Himalaya"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 28-08-2020

duniatambang.co.id - Sebagian besar garam dapur yang dikonsumsi manusia di dunia saat ini berasal dari air laut yang dievaporasikan di bawah terik matahari, kemudian diproses secara kimia. Tapi ternyata, itu bukanlah satu-satunya cara untuk memperolehh garam. Sebagian garam lainnya di dunia ini diperoleh lewat proses penambangan di daratan.

Dengan kata lain, garam adalah komoditas tambang. Namun karena harga jual garam per tonnya jauh lebih murah dibandingkan mineral tambang lain, banyak orang yang tidak memandangnya demikian. Harga murah tersebut berkaitan dengan nilai guna dan ketersediaan garam di alam, sama seperti harga komoditas tambang pada umumnya. Garam adalah komoditas konsumsi, dan tersedia dalam jumlah yang sangat banyak—kalau bukan tidak terbatas—di alam bebas, sehingga nilai jualnya pun menjadi begitu murah.

Meski demikian, ternyata ada satu jenis garam yang diperjualbelikan dengan harga berbeda, yaitu himalayan salt alias garam himalaya. Tren konsumsi garam hasil tambang ini melonjak dalam beberapa tahun terakhir karena banyaknya praktisi kesehatan yang mempromosikan penggunannya, bahkan menyarankan penggantian garam dapur biasa dengan garam himalaya. Efeknya, harga garam himalaya menjadi lebih mahal dari harga garam dapur biasa. Berbagai klaim tentang garam himalaya mengacu pada satu hal : garam himalaya lebih menyehatkan daripada garam dapur hasil evaporasi air laut karena kandungan mineralnya yang lebih tinggi. Namun benarkah demikian?

Mengenal Garam Dapur Biasa dan Garam Himalaya

Garam adalah mineral yang dapat terbentuk secara alami maupun karena campur tangan manusia. Sebagian besar komposisi garam disusun oleh sodium klorida. Banyak orang bahkan sering tertukar dalam memakai sebutan “sodium” dan “garam”, karena dalam satuan massanya, 98% garam adalah sodium klorida itu sendiri. Sisa dua persen lainnya pada garam adalah kandungan mineral lain seperti zat besi, potassium, kalsium dan lain-lain.

Tubuh manusia pada dasarnya membutuhkan pasokan garam atau sodium dalam dosis yang tepat untuk menjaga fungsi otot dan sistem peredaran darah. Garam dengan tambahan unsur iodium, secara khusus berfungsi memenuhi kebutuhan iodium manusia, agar manusia yang mengonsumsinya tercegah dari gangguan fungsi kelenjar tiroid yang dapat berujung pada penyakit gondok.

Ada dua cara memproduksi garam, yaitu lewat mengevaporasikan air laut dan lewat penambangan garam di bawah tanah. Salah satu garam yang diperoleh lewat proses penambangan adalah garam himalaya.

Garam himalaya sebagian besar diekstraksi dari Tambang Garam Khewra di Pakistan Utara, berjarak ratusan kilometer dari barisan pegunungan Himalaya. Khewra adalah salah satu tambang garam tertua dan terbesar yang ada di dunia. Garam di Khewra diduga merupakan hasil evaporasi air laut secara alami pada 500 juta tahun yang lalu, ketika daratan di himalaya masih terendam air laut. Karena keberadaannya 5.000 kaki (sekitar 1,5 kilometer) di bawah pegunungan Himalaya, garam himalaya selama ini terproses secara alami oleh tekanan yang tinggi, sehingga memiliki tingkat kemurnian yang jauh di atas garam dapur biasa.

Selain lebih murni, garam himalaya juga ditambang secara langsung oleh para penambangnya menggunakan peralatan tambang tradisional dan tanpa melibatkan zat kimia berbahaya bagi lingkungan maupun penambangnya sendiri. Proses penambangan tersebut, meskipun lambat, tetapi berperan dalam menjaga kealamian garam himalaya hingga sampai kepada konsumennya.

Benarkan Garam Himalaya Lebih Menyehatkan?

Garam himalaya selama ini mudah dikenali lewat warna merah mudanya yang mencolok, berbeda dengan garam dapur yang berwarna putih kristal. Banyak orang mengklaim manfaat garam himalaya bagi tubuh disebabkan karena adanya lebih banyak kandungan mineral pada garam ini dibandingkan garam dapur biasa. Setidaknya terdapat 84 jenis mineral, termasuk potasium, kalsium dan zat besi di dalam garam himalaya.

Klaim tersebut tidak salah. Namun penting untuk mengetahui jika kandungan utama dari garam, apapun jenisnya, adalah sodium dan klorida terikat. Garam himalaya mengandung hingga 98% sodium klorida, sementara berbagai mineral lainnya yang terkandung pada  garam himalaya hanya mengisi 2% komposisi garam tersebut. Dengan kata lain, mengonsumsi garam himalaya dalam takaran yang sama seperti garam dapur tidak akan menciptakan efek kesehatan yang signifikan terhadap tubuh manusia.

Meski demikian, masih ada manfaat ekstra yang bisa didapatkan dari mengonsumsi garam himalaya. Garam himalaya yang ditambang dalam bentuk balok memiliki butiran partikel yang lebih besar dari garam dapur hasil evaporasi. Dengan kata lain, garam himalaya dan garam dapur dengan takaran yang sama, misalnya satu sendok teh, dapat mengandung volume sodium yang berbeda. Garam dapur bertekstur lebih kopong, sementara garam himalaya lebih padat. Tentu saja dengan beralih ke garam himalaya, seseorang dapat menghemat penggunaan garamnya, jika dia memiliki pemahaman yang baik tentang dosis konsumsi garam atau asupan minimal harian sodium yang dibutuhkan tubuhnya. Di sisi lain, garam himalaya juga lebih murni dan alami dari garam dapur biasa, karena tidak diproses dengan zat kimia.

Kekurangan garam himalaya dibandingkan dengan garam dapur biasa terdapat pada absennya kandungan iodium. Kampanye mengonsumsi garam beriodium sudah digaungkan pemerintah Indonesia kepada warganya sejak beberapa dekade silam, mengingat pada masa lampau, banyak warga Indonesia yang menderita penyakit gondok dan gangguan metabolisme tubuh yang diakibatkan kurangnya asupan iodium. Mengonsumsi iodium pada garam dapur dapat mencegah gangguan kelenjar tiroid dan penyakit-penyakit lainnya yang berhubungan dengan hormon tiroid dan metabolisme tubuh secara umum.

Iodium adalah unsur yang dicampurkan ke dalam garam dapur pada proses pembuatannya, dan ini adalah hal yang tidak terjadi dalam proses pengolahan garam himalaya dari komoditas tambang menjadi garam konsumsi. Seseorang yang memutuskan untuk beralih dari garam dapur ke garam himalaya harus sadar konsekuensi tersebut, lalu mencari asupan iodium dari makanan selain garam, seperti ikan, produk olahan susu dan rumput laut.

Lebih lanjut, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDCP) melalui Dietary Guidelines for Americans 2015 – 2020 merekomendasikan semua orang untuk tidak mengonsumsi garam atau sodium lebih dari 2,3 gram per hari, karena konsumsi garam berlebihan dapat berdampak negatif terhadap fungsi jantung dan ginjal. Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk mengonsumsi garam yang manapun akan memiliki dampak yang berbeda pada setiap orang, karena kondisi kesehatan setiap orang berbeda, sehingga penggunaan garam himalaya sebaiknya disertai dengan konsultasi dokter atau ahli gizi.

Garam Himalaya sebagai Komoditas Tambang

Garam himalaya, sama seperti mineral tambang lainnya, memiliki keterbatasan jumlah cadangan di alam bebas. Namun ketersediaannya masih ada sangat banyak, dan mengingat konsumsi garam dunia tidak setinggi konsumsi mineral lain seperti batubara atau tembaga, maka akan butuh waktu sangat lama untuk menghabiskan seluruh cadangan garam tambang yang ada di planet ini.

Keenam tambang garam himalaya yang ada saat ini memiliki jumlah cadangan garam yang sangat berlimpah. Jumlah persis total  cadangan tersebut masih belum diketahui pasti, tetapi Khewra, tambang garam himalaya terbesar yang ada saat ini, diperkirakan mengandung 6,7 miliar ton garam dan baru 220 juta dari jumlah tersebut yang saat ini dapat diakses oleh penambang. Khewra memproduksi sekitar 400.000 ton garam setiap tahunnya. Dengan asumsi bahwa tambang-tambang lainnya juga memproduksi garam dalam jumlah yang sama, maka tanpa eksplorasi tambang baru pun, ketersediaan garam himalaya akan masih dapat terpenuhi hingga 550 tahun mendatang.

Tambang garam himalaya terbentuk sejak sekitar 500 juta tahun yang lalu pada masa pra-kambrium. Air laut yang terkepung daratan himalaya perlahan-lahan menguap karena sinar matahari dan menyisakan endapan mineral garam dalam jumlah melimpah. Aktivitas tektonik di sekitar wilayah tersebut pun kemudian mengunci mineral garam dalam lapisan batu dan tekanan yang tinggi. Proses itu berlangsung selama ratusan juta tahun, hingga kemudian pergeseran lempeng tektonik membuat cadangan garam tersebut terdorong kembali ke permukaan kerak bumi dan membentuk gunungan tambang garam yang sekarang digali oleh para penambang garam himalaya.

Cadangan garam himalaya pertama kali ditemukan pada tahun 326 SM oleh Alexander the Great dan pasukannya yang singgah di Khewra. Pasukan Alexander dengan heran mengamati kuda-kuda mereka yang kelaparan tampak menjilati bebatuan yang ternyata mengandung garam. Sejak saat itu, Khewra dikenal sebagai bukit yang mengandung garam.

Ratusan tahun kemudian, Kaisar Mughal Jalaluddin Muhammad Akbar mulai memperkenalkan metode penambangan garam terstandar di Khewra. Banyak sejarawan yang sepakat jika garam himalaya mulai menjadi komoditas yang diperjualbelikan secara internasional pada masa Kaisar Akbar.

Lalu pada tahun 1827, saat wilayah India dan sekitarnya telah ditaklukkan oleh Inggris, seorang insinyur berkebangsaan Inggris menggunakan teknik ekskavasi tambang yang saat ini dikenal dengan nama “room and pillar” atau “dome and pillar” untuk meningkatkan produksi garam himalaya. Teknik ini memanfaatkan dinamit untuk meledakkan sebagian tambang dan menciptakan terowongan panjang ke dalamnya. Dengan presisi, 50% bagian dalam tambang diledakkan, sementara 50% sisanya dibiarkan utuh dalam bentuk tiang-tiang karang yang menopang langit-langit tambang tersebut. Dengan teknik ini, para penambang Khewra dapat menggali lebih banyak garam di bagian dalam tambang dengan lebih aman dan efisien. Kombinasi teknik penambangan garam Inggris dan teknik tradisional Kaisar Akbar tersebut selama ini dipertahankan oleh para penambang garam himalaya dalam melakukan pekerjaan mereka.

Pertambangan garam himalaya kemudian terus berkembang. Hingga kini, selain Khewra, terdapat lima situs tambang garam himalaya lainnya yang berjejer dalam sebuah barisan perbukitan bernama “Salt Range”.  Salt Range berada di kaki Gunung Himalaya di sebelah Utara Pakistan, membentang dari Sungai Jhelum hingga ke Sungai Indus dengan lebar dataran mulai dari 5 hingga 19 mil (sekitar 8 hingga 30,6 km) dan beberapa puncaknya mencapai ketinggian hingga hampir 5.000 kaki (sekitar 1,5 km). Keenam tambang garam himalaya yang ada saat ini berada di dalam bentangan Salt Range, dan masing-masing tambang tersebut memproduksi garam dengan ciri dan keunikan masing-masing. Namun diantara semuanya, Tambang Khewra—disebut pula Tambang Mayo—adalah yang paling terkenal,  karena merupakan tambang garam terbesar dan tertua yang ada disana.

Tambang Garam Khewra pertama kali dibuka pada tahun 1820-an. Tambang ini memiliki terowongan sepanjang 40,2 kilometerdengan 18 tingkatan. Setiap tahunnya, hampir sebanyak 300.000 turis domestik dan mancanegara yang menyambangi tambang ini untuk menyaksikan langsung bagian dalam tambang yang artistik. Beberapa tembok dan balok garam di dalam sana bahkan sengaja diukir menjadi replika landmark dunia, seperti Menara Eiffel atau Tembok Besar Tiongkok untuk menarik minat turis.

 

Penulis : Ahmad Redho Nugraha

Editor    : Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !