Detail Berita


Mencengangkan, Potensi REE di Indonesia Bikin Melongo



duniatambang.co.id - Rare Earth Element (REE) atau yang biasa disebut dengan logam tanah jarang umumnya dijumpai bersama dengan mineral ikutan seperti monasit, xenotim, zircon, dan apatit. Logam tanah jarang  merupakan kumpulan dari 17 unsur yang terdiri dari scandium (Sc), yttrium (Y), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulim (Tm), ytterbium (Yb), dan lutetium (Lu).

 

Logam tanah jarang membentuk senyawa kompleks sehingga logam tanah jarang harus dipisahkan terlebih dahulu dari senyawa kompleks tersebut.  Potensi pengembangan logam tanah jarang memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan. Diperkirakan permintaan terhadap logam tanah jarang akan meningkat karena berkaitan erat dengan produk industri teknologi tinggi seperti industri komputer, nuklir, telekomunikasi, ruang angkasa, hybrid car, sampai cat anti radar.

 

Pada bidang metalurgi, logam tanah jarang digunakan sebagai campuran dalam pembuatan baja high strength, baja karbon tinggi, superalloy, stainless steel. Logam tanah jarang memiliki kelebihan karena bisa meningkatkan kemampuan material seperti kekerasan, kekuatan dan peningkatan daya tahan terhadap panas. Pemanfaatan logam tanah jarang yang lain berupa korek gas otomatis, perhiasan, lem dan lampu keamanan di pertambangan.

 

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Virdhian dan Afrilinda (2014), disebutkan bahwa  di Indonesia keberadaan mineral tanah jarang terdapat pada daerah yang mengandung intrusi granitoid, plaser, dan alluvial. Daerah-daerah yang memiliki ekstensif instrusi granitoid di Indonesia adalah Kepulauan Tujuh, Singkep, Pulau Bangka dan Belitung, Kundur, Karimun Jawa, Sumatera, Pulau Sula Banggai (timur Sulawesi), Kalimantan dan bagian barat Papua (Johari dan Kuntjara, 1991).

 

Mineral logam tanah jarang yang banyak ditemukan di Indonesia adalah monasit. Menurut data Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2009, bahwa cadangan mineral monasit di Indonesia adalah lebih dari 951.000 ton (Sukhyar, 2013). Berikut adalah beberapa hasil penelitian mengenai keberadaan mineral tanah jarang di Indonesia.

  1. Pulau Bangka dan Belitung
  2. Pegunungan Tiga Puluh
  3. Kalimantan Barat
  4. Papua bagian barat
  5. Pulau Sula Banggai (Sulawesi)

 

Logam tanah jarang di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 miliar ton menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2015. Potensi logam jarang di Indonesia sangat besar baik sebagai produk itu sendiri atau mineral.unsur ikutan dari berbagai tambang mineral.

 

Logam tanah jarang di Indonesia dihasilkan sebagai produk sampingan penambangan dan pengolahan timah dan emas. Diperlukan pengembangan teknologi tinggi dan teknologi alternatif untuk mengembangkan logam tanah jarang dan penanganan yang baik. Hilirisasi logam tanah jarang memiliki manfaat untuk meningkatkan nilai tambah tumbuhnya industri hilir. Dari potensi cadangan, Indonesia memungkinkan menjadi negara eksportir logam tanah jarang, namun harus mendahulukan hilirisasi dan pemenuhan dan kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu.

 

(MS)