Detail Berita


Bisnis Batubara Kurang Lagi Diminati Perusahaan Tambang Terbesar Dunia, Kenapa?


"Coal Mining"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 24-08-2020

duniatambang.co.id – Bisnis batubara kini kian tertekan. Banyaknya konsumen importer batubara dari berbagai penjuru dunia juga mulai memangkas permintaan yang dibutuhkan dalam industrinya. Selain itu, banyaknya program-program pemerintah dari berbagai Negara yang melakukan pemanfaatan energi alternatif dan energi baru terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan murah untuk diproduksi kian meningkat seiring waktunya. Hal ini membuat beberapa perusahaan tambang yang bergerak pada produksi batubara mulai menurunkan produksi dan sebagian beralih ke produksi bahan galian lain yang lebih potensial.

Salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia, BHP (BHPLF) Australia berencana memangkas bisnis batubara. Perusahaan tambang yang berbasis di Melbourne, Australia itu akan mencoba untuk menjual 80 persen sahamnya pada perusahaan patungan BHP Mitsui Coal. Anak usahanya itu memiliki dua tambang batubara dengan kualitas rendah di Queensland. Batubara dengan kualitas rendah sendiri digunakan untuk pembuatan baja. Selain itu, perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas US$ 100 miliar itu juga akan menjual aset batubara termal di Australia dan Kolombia.

Dilansir dari cnnindonesia.com, CEO BHP Mike Henry menyatakan perusahaan ingin meningkatkan bisnis ekstraksi tembaga dan nikelnya sembari mendivestasikan aset minyak dan gas yang sudah matang. Rencana itu menggambarkan upaya perusahaan untuk menciptakan bauran energi yang berbeda dari saat ini. Selain itu, Henry juga ingin memfokuskan portofolio batubara BHP pada tambang batubara dengan kualitas lebih tinggi.

Analis menilai perusahaan mempercepat transisi ke energi hijau juga tidak lepas dari pandemi virus corona. Wabah itu menghantam permintaan minyak, gas, dan batubara. Pasalnya, aktivitas di luar rumah menjadi terbatas, operasional pabrik terhenti, dan banyak pesawat tidak terbang. Analis sendiri pesimistis permintaan tambang dapat segera pulih.

Sementara itu, pada awal bulan ini, BP mengumumkan kenaikan investasi rendah karbon sebesar sepuluh kali lipat sebagai upaya perusahaan untuk mengantisipasi dunia yang mengurangi penggunaan minyak. BP memperkirakan permintaan bahan bakar fosil bisa turun hingga 75 persen selama 30 tahun ke depan bila kenaikan suhu global dibatasi hingga 1,5 derajat celcius. Oleh karena itu, apakah bisnis batubara kedepannya tetap menjadi bisnis energi potensial yang akan tetap dilirik oleh perusahaan-perusahaan tambang kedepannya?

 

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !