Detail Berita


Pemanfaatan Red Mud, Limbah Hasil Tambang Aluminium


"Limbah Tambang Aluminium (Red Mud)"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 18-08-2020

duniatambang.co.id - Red Mud, dalam bahasa indonesia yaitu lumpur merah merupakan limbah yang dihasilkan oleh produksi industri alumina. Red Mud bersifat basa sehingga cukup berbahaya terhadap lingkungan. Senyawa ini dihasilkan melalui bayer process yang merupakan salah satu tahap ekstraksi dari bauksit untuk memproduksi alumina.

Dalam pemanfaatannya di berbagai dunia, Red Mud banyak digunakan sebagai bahan bakar semen dan juga sebagai sumber Rare Earth Elements, khususnya untuk red mud yang berasal dari wilayah Ukraina, Rusia, dan China.

Bagaimana cara mereka memanfaatkan Red Mud? Berikut ulasannya.

RED MUD Composition

Komposisi yang dimiliki oleh red mud berbeda-beda tergantung wilayah bauksit di produksi. Dilansir oleh UC Rusal Assesment, yang merupakan perusahaan pengolahan red mud terbesar di dunia yang berasal dari Rusia, berikut pemanfaatan red mud yang paling sering digunakan:

1. Material mentah untuk membuat semen

Untuk pemanfaatan kategori ini, seluruh kategori red mud yang ada di seluruh dunia dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat semen. Pemanfaatan ini telah dilakukan oleh Ukraina melalui perusahaan Nikolaev Alumina Refinery.

2. Sebagai bahan ekstraksi Scandium dan REE

Pemanfaatan jenis ini banyak dilakukan di negara China, Jamaica, dan Rusia. Hal ini dikarenakan kandungan red mud di negara ini memiliki kandungan REE yang sangat banyak 90–150 ppm Sc,300-350 ppm Y and La, sampai 600 ppm Ce). Pengembangan untuk mengekstraksi Scandium telah dilakukan di 3 negara tersebut sejak 2015, tujuannya adalah dapat mengekstraksi Sc hingga 75 %. Diketahui Scandium merupakan salah satu material yang memiliki sifat baik sebagai bahan bodi pesawat terbang. Biasanya material ini akan dipadukan dengan Alumunium. Teknologi "karbonasi" eksklusif digunakan tanpa limbah asam ke proses utama Bayer dalam penerapan proses ekstraksi Scandium.

Untuk unsur REE seperti Dysprosium (Dy) and Nyodymium (Nd) telah dilakukan pilot project pada tahun 2014 di jamaica yang dilakukan oleh Nippon Light Metals bekerja sama dengan Jamaica Bauxite Institute. Project ini sempat ditunda dikarenakan adanya penurunan harga yang cukup tajam yang disebabkan oleh adanya penghapusan pembatasan ekspor China oleh World Trade Organization. Selain itu, penyebab sulitnya berjalannya project ini adalah harga produksi yang tinggi untuk mengekstrak REE.                                 

3. Bahan dasar untuk pembuatan baja

Untuk melakukan produksi baja menggunakan red mud, diperlukan investasi tambahan dalam fasilitas pembuat besi dan baja yaitu blast furnace. Proses ini sudah banyak dilakukan di berbagai negara seperti China yang merupakan produsen Alumina terbesar sekaligus konsumen terbesar di dunia. Pemanfaatan ini dinilai efektif dikarenakan kandungan Fe yang terdapat pada red mud cukup banyak. Di China sendiri, proses pemanfaatan red mud  sebagai bahan dasar blast furnace sangat tergantung oleh harga pasar biji besi. Moscow Institue of Steel and Alloys juga telah mengembangkan furnace generasi terbaru yang dapat memproduksi pig iron dan juga ampas bijih dengan lebih sedikit mengeluarkan konsumsi energi.

Bagaimana dengan pemanfaatan red mud di Indonesia?

Saat ini Indonesia sudah memiliki industri pengolahan bauksit yang terletak di Kalimantan Barat. Proses pembangunan industri ini akan terus dilakukan hingga tahun 2021. Industri ini diperkirakan akan menghasilkan sekitar 4,3 juta ton Chemical Grade Alumina (CGA) petahun dan 1,2 juta ton Smelter Grade Alumina (SGA) pertahun. Sehingga jumlah red mud yang dihasilkan berkisar 4,4 juta ton pertahun.

Melihat kondisi ini, MIND ID pada bulan Juli 2020 menyatakan dengan tegas akan melakukan pemanfaatan terhadap red mud.

Pembangunan smelter tersebut ditargetkan selesai pada 2022, setelah itu baru akan dibuat smelter khusus untuk memproduksi red mud. Pembangunan smelter red mud saat ini masih dalam tahap penghitungan biaya dan penilaian mengenai keekonomisannya.

 

Penulis : Ario Bhismo Nugroho

Editor  : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !