Detail Berita


Industri Tambang Tanah Air Mampu Jawab Tantangan Konsep Ekonomi Sirkular


"Excavator Backhoe di Site Pertambangan"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 18-08-2020

duniatambang.co.id -  Selama ini banyak sekali pembahasan mengenai perubahan dari ekonomi linear menjadi ekonomi sirkular dalam industri pertambangan. Secara teknis, konsepnya adalah dengan meniru sistem alami yang berfokus pada pemulihan, penggunaan material yang bisa didaur ulang, sehingga bisa meminimalisir limbah yang dihasilkan.

Tujuan utama dari perubahan dalam ekonomi sirkular itu adalah bisa melakukan penghematan pada material dasar dan tentunya memberikan dampak dan resiko terendah terhadap lingkungan. Konsep ini justru terdengar seperti menghentikan laju perkembangan industri pertambangan. Namun benarkah demikian?

Jika melihat perkembangan dunia pertambangan selama 50 tahun terakhir ini, konsep paling dasar adalah “bigger is better”. Artinya dengan menggunakan peralatan dan sumber daya yang besar, maka bisa menghasilkan produksi yang besar pula.

Hasilnya, dalam segi finansial perusahaan tambang, hal tersebut memberikan dampak yang positif. Peralatan besar yang dioperasionalkan secara otomatis, mampu menekan biaya produksi begitu rendah. Namun di sisi lain, limbah dan emisi yang dihasilkan pun juga semakin banyak. Hal ini bertolak belakang dengan konsep ekonomi sirkular.

Terlebih masyarakat sekarang ini semakin memahami tentang standar hidup yang layak. Mereka menaruh perhatian yang cukup tinggi pada resiko kesehatan akibat dampak dari polusi, serta keberadaan limbah pabrik, khususnya industri pertambangan.

Mau tidak mau, hal ini membuat pelaku usaha di dunia tambang berpikir lebih keras pada pengelolaan limbah dan berfokus investasi pada teknologi dan sumber daya yang bisa diperbarui. Pemerintah juga turut mendorong hal ini melalui berbagai kebijakan yang mereka keluarkan.

Sejumlah industri pertambangan modern pun mulai beradaptasi dengan konsep ekonomi sirkular yang mengedepankan teknologi ramah lingkungan. Bahkan pelaku pertambangan melihat hal ini sebagai peluang emas. Perusahaan tambang pun berlomba dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi serta sumber daya yang bisa diperbarui.

Salah satu yang ada di Indonesia adalah pemanfaatan teknologi Tambang Kecil Terintegrasi (TKT) oleh PT Timah yang mampu menambang timah alluvial secara efisien dan efektif tanpa harus membuka area yang luas.

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) jugamemanfaatkan teknologi guna menjadikan limbah batubara berupa abu Fly Ash Bottom Ash menjadi bahan pengeras jalan, yang bisa digunakan di area reklamasi pertambangan.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Ocky PR

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !