Detail Berita


Lakukan 5 Upaya Ini untuk Menyulap Lubang Bekas Tambang Jadi Kawasan Berwawasan Lingkungan



duniatambang.co.id - Kegiatan reklamasi dan pascatambang adalah suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pertambangan. Dalam Permen ESDM RI Nomor 26 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik dan  Pengawasan Mineral dan Batubara, reklamasi merupakan kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Sedangkan, pascatambang adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah pertambangan.

Pada tahun 2019, pemerintah menargetkan akan melakukan reklamasi lahan bekas tambang seluas 7.000 hektar. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun 2014.  Di samping melakukan pemulihan lahan, fokus utama dari kegiatan reklamasi ini adalah tentang keberlanjutan sosial dan ekonomi masyarakat setelah penutupan tambang. Untuk itu, perlu dilakukan reklamasi lubang bekas tambang yang berwawasan lingkungan untuk mencapai tujuan tersebut.

Adapun beberapa upaya reklamasi yang berwawasan lingkungan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Revegetasi Tanaman Lokal

Lahan pascatambang umumnya gersang, tanaman-tanaman sulit tumbuh sehingga menjadi lahan kritis. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan upaya revegetasi. Pada kawasan tertentu, tanaman lokal memiliki kelebihan mudah beradaptasi. Pemilihan jenis tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim mikro. Dengan menggunakan tanaman lokal juga merupakan upaya untuk menjaga kelestarian hayati. Ada sekitar 45 jenis tanaman lokal yang mampu tumbuh di kawasan bekas tambang seperti Laban (Vitex pinnata), Kerumbi (Homalanthus populheus), Merambung (Vernonia arborea), dan lain-lain. Jenis pohon yang sering dipakai untuk penghijauan kembali adalah akasia dan minyak kayu putih, seperti yang diterapkan oleh PT Bukit Asam. Selain dengan penanaman pohon, perlu ditambahkan unsur lain seperti pupuk kompos untuk mempercepat pertumbuhan pohon.

2. Bersinergi dengan alam

Rehabilitasi pascatambang dengan kombinasi antara upaya manusia dengan kekuatan alam menjadi sinergi yang sangat bagus untuk pemulihan lahan pascatambang, diungkapkan oleh Ishak Yasir dari Balai Penelitian Teknologi Konservasi SDA Samboja.  Lahan tambang yang merupakan kawasan hutan dalam bentuk pinjam pakai area merupakan alasan utama konsep tersebut. Lahan yang mengalami degradasi seperti kehilangan material berupa kayu-kayu hasil land clearing bisa diolah untuk memperbaiki kualitas tanah. Cara lain konsep ini juga bisa berupa penanaman buah-buahan dengan maksud mengundang kehadiran burung dan kelelawar yang diharapkan dapat membawa benih dari hutan yang tersisa di sekitar kawasan tambang sehingga nanti benih yang dibawa oleh burung dan kelelawar dapat tumbuh di daerah bekas tambang.

3. Memanfaatkan Mikroorganisme

Salah satu mikroorganisme yang mendominasi dalam ekosistem tanah yang dapat memperbaiki fungsi lahan adalah fungi atau jamur. Beberapa fungi juga mampu membentuk asosiasi ektotropik dalam sistem perakaran pohon-pohon hutan. Fungi dapat membantu memindahkan fosfor dan nitrogen dalam ke tubuh tanaman yang tumbuh di atas tanah tersebut. Tiga kelompok fungi tanah yang dapat membantu memperbaiki keseimbangan lahan adalah Aspergillus, Euphenicillium dan Penicillium. Upaya ini bagus untuk dicoba karena karena fungi memiliki keistimewaan, yaitu adaptif terhadap berbagai kondisi tanah dan memiliki kemampuan menguraikan bahan organik dan membantu proses pembentukan mineral di dalam tanah,

4. Fitoremediasi

Fitoremediasi adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keseimbangan lahan yang melibatkan tanaman berklorofil. Teknik fitoremediasi ini sebagai penyerap kandungan polutan pada tanah dan air melalui tanaman berklorofil tersebut. Dengan teknik ini, kandungan polutan pada Air Asam Tambang (AAT) dapat dikurangi dengan penyerapan logam berat melalui akar tanaman. Teknik ini juga disebut sebagai sistem rawa buatan. Tanaman yang sering digunakan pada fitoremediasi ini adalah eceng gondok karena mudah didapatkan dan pertumbuhan cepat. Fitoremediasi patut untuk dicoba karena harga lebih ekonomis dan efektif serta dapat dipadukan dengan kapur untuk meningkatkan pH.

5. Tempat Wisata

Lubang bekas tambang dijadikan sebagai tempat wisata menjadi pilihan yang menarik. Selain dapat menikmati keindahan alam, tempat wisata lubang bekas tambang dapat dijadikan sebagai wisata edukatif untuk memberikan wawasan pertambangan bagi pengunjung yang berwisata.  Contoh lubang bekas tambang yang disulap menjadi tempat wisata adalah dengan dijadikan kolam ikan yang menampung berbagai jenis ikan. Contoh lainnya sebagai wahana olahraga air. Sebelumnya air dalam lubang bekas tambang dilakukan pengolahan terlebih dahulu untuk menghilangkan pengaruh logam berat. Wisata lubang bekas tambang dapat dimanfaatkan sebagai pendapatan daerah dan memberikan akses bagi warga sekitar untuk mendapatkan penghasilan dengan menyediakan barang dan jasa di tempat wisata sehingga dapat membantu perekonomian warga.

Reklamasi lubang bekas tambang yang berwawasan lingkungan sangat penting untuk kelestarian dan sosial ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. Dengan beberapa upaya yang telah dipaparkan di atas diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan yang akan melakukan reklamasi lahan bekas tambang.

(MS)