Detail Berita


Waspada! Bahaya Lubang Bekas Tambang yang Tidak Direklamasi



Tanggal terbit: 18-06-2019

duniatambang.co.id - Dalam kegiatan usaha pertambangan, terdapat sistem tambang terbuka (surface mining) dan tambang bawah tanah (underground mining) yang masing-masing terdiri dari berbagai metode penambangan. Pemilihan metode penambangan berdasarkan bentuk, kedalaman, sebaran, posisi, volume, dan kondisi tanah penutup dari bahan galian. Sistem tambang terbuka lebih banyak digunakan karena relatif lebih aman, biaya lebih rendah, sistem kontrol alat-alat yang beroperasi lebih mudah. Dibalik kelebihan sistem tambang terbuka, tak sedikit lubang tambang yang dapat dijumpai tidak dilakukan reklamasi oleh perusahaan pertambangan yang bersangkutan.

 

Padahal menurut Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang, mengharuskan perusahaan melakukan reklamasi dan pascatambang lubang bekas tambang . Dalam Pasal 5 (1), disebutkan bahwa pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi sebelum melakukan kegiatan eksplorasi wajib menyusun rencana reklamasi berdasarkan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu, perusahaan juga wajib menyetorkan uang jaminan reklamasi dan pasca tambang kepada pemerintah daerah.

 

Meski regulasi telah dibuat sedemikian rupa, diduga masih saja ada perusahaan yang mengabaikan regulasi tersebut. Terbukti, beredarnya berita lubang bekas tambang yang memakan korban jiwa. Liputan6.com mengabarkan pada 28 April 2019, seorang remaja bernama Rizki Nur Aulia (14) tewas tenggelam pada Minggu (21/04/19) pukul 18.00 WITA di lubang bekas galian batubara di Desa Bunga Jadi Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Menurut laporan warga setempat,  kawasan tersebut terbuka umum tanpa dilengkapi peringatan pelarangan maupun pemasangan pagar pembatas.

 

Selain berpotensi memakan korban jiwa, lubang bekas tambang juga berdampak buruk bagi kondisi tanah dan ekosistem. Pembongkaran lapisan tanah dalam proses penambangan telah membuat mineral di dalam tanah terbuka sehingga membawa logam-logam berat seperti besi (Fe), timbal (Pb), seng (Zn), dan lain-lain. Dalam jurnal penelitian Kurniawan, dkk (2015), menuliskan bahwa Kandungan Fe and Pb yang tinggi di dalam tanah maupun air akan mengganggu keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut. Kandungan sulfid yang terdapat dalam air memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan senyawa sulfat sebagai penyebab terjadinya air asam tambang melalui proses oksidasi.

 

Air di dalam lubang bekas tambang tak layak digunakan untuk kebutuhan manusia dan dikonsumsi karena pH air rendah. Apabila logam berat yang terdapat dalam air asam tambang terkonsumsi oleh manusia dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti gatal-gatal, muntah, dan kanker, dan dapat merusak organ tubuh manusia hingga menyebabkan kematian. Itulah sebabnya lubang bekas tambang sangat berbahaya jika tidak dilakukan reklamasi.

(MS)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !