Detail Berita


Permintaan Batubara dari India Turun, Industri Pertambangan Kaltim Semakin Tertekan


"Tugboat menarik tongkang bermuatan batubara"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 29-07-2020

duniatambang.co.id – Menurut Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI), ekspor batu bara ke India menurun 20% selama 4 bulan terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), permintaan impor batu bara dari India turun 65,8% pada Mei 2020 dibandingkan yang pada Mei 2019. Hingga 2019, India merupkan negara pengimpor rata-rata 240 juta ton batu bara per tahun diantaranya sekitar 122 juta ton (lebih dari 50%) berasal dari Indonesia. Di sisi lain bagi Indonesia, pasar ekspor batu bara ke India setara dengan 27% dari total ekspor batu bara nasional berdasarkan data dari APBI. Meskipun India merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia, tetapi dampaknya sudah membuat industri pertambangan batu bara Indonesia tertekan.

Pandemi bukan satu-satunya penyebab impor batu bara India melorot. India Times melaporkan, Perdana Menteri Narendra Modi berencana memangkas impor batu bara secara besar-besaran. Menurut sumber terpercaya, pemerintah setempat bahkan menyiapkan India bebas dari impor batu bara pada 2023 (Lockdown: India's Avoidable Coal Imports to be Brought Down to Zero, artikel, 2020).  

Tekanan terhadap Industri Pertambangan Batu Bara Kalimantan Timur (Kaltim)

Kaltim merupakan daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Bahkan, menurut Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian ESDM, 4 dari 10 pengekspor batu bara terbesar Indonesia berasal dari Kaltim, yaitu:

  • PT Kaltim Prima Coal
  • PT Kideco Jaya Agung
  • PT Berau Coal
  • PT Indominco Mandiri

Oleh karena itu, industri pertambangan batu bara di Kaltim tertekan terbesar akibat turunnya permintaan batu bara dari India.

Selain itu, turunnya permintaan batu bara dari India bukan merupakan satu-satunya tekanan bagi mereka. Masih terdapat 2 faktor yang perlu diperhatikan berupa harga komoditas batu bara internasional yang belum membaik dan adanya harga komoditas gas bumi yang sedang murah. Sudah hampir setahun, harga batu bara internasional belum beranjak dari USD 55 per ton. Menurut bursa ICE Newcastle sebagai salah satu acuan harga batu bara global, komoditas tersebut sudah menyentuh USD 52,4 per ton pada pertengahan Juli 2020. Dibandingkan tahun lalu, harga batu bara internasional terjun 35 persen.

Ketika ditambah dengan situasi India dan pasar ekspor Tiongkok yang masih lesu, pasokan batu bara di seluruh dunia saat ini menjadi oversupply. Beragam situasi diatas diperkirakan dapat mendorong harga batu bara dunia terjun semakin dalam.

Respon dari Industri Pertambangan Batu Bara Kaltim

Lewat keterangan tertulis, Arif Hadianto selaku corporate communication manager PT Berau Coal, mengakui bahwa bisnis batu bara saat ini penuh dengan tekanan. Berau Coal sebagai pemegang perjanjian pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) dengan konsesi terbesar di Kaltim memiliki target pasar ekspor ke Tiongkok dan India.

“Pada akhirnya, batu bara Indonesia belum banyak terserap pasar. Sukar sekali mencari pembeli sehingga permintaan dan penawaran untuk komoditas ini tidak seimbang,” jelas Arif, Rabu, 22 Juli 2020.

Sebagaimana anggota APBI yang lain, Berau Coal merespons situasi ini dengan menurunkan volume produksi. Langkah tersebut dipilih supaya oversupply batu bara di pasar dunia tidak semakin lebar.

“Perusahaan juga mengambil berbagai langkah efisiensi. Ancaman terbesar memang PHK (pemutusan hubungan kerja) namun itu adalah pilihan terakhir,” jelas Arif. Berau Coal meminta permakluman dari pemangku kepentingan terhadap situasi ini. Sebagai contoh, perusahaan mesti mengurangi nilai tanggung jawab sosial (CSR).

Dalam siaran resminya, APBI mengumumkan bahwa sejumlah anggota asosiasi berencana memangkas produksi pada 2020. Pemangkasan volume produksi ini diperkirakan antara 15 persen hingga 20 persen. Apabila persentase tersebut diterapkan di Kaltim yang mengekspor 200 juta ton pada 2019, jumlah produksi yang dipangkas mencapai 30 juta sampai 40 juta ton se-Kaltim.

"Pemotongan produksi diharapkan mendongkrak harga batu bara global dengan tercapainya keseimbangan penawaran dan permintaan," terang Ketua Umum APBI-ICMA Pandu Sjahrir dalam keterangan tertulis (APBI Bakal Pangkas Produksi Batu Bara 2020, Berikut Pendapat Analis, siaran resmi APBI, 2020).

Kebijakan mengurangi volume produksi bakal membawa dampak yang besar. Ketika perusahaan beroperasi tidak di kapasitas maksimal, otomatis harus melakukan penyesuaian atau efisiensi. Biasanya, langkah pertama yang diambil adalah mengurangi jam kerja. Apabila keadaan tak juga membaik, langkah efisiensi diiringi oleh kebijakan merumahkan karyawan. Hal terburuk buruk adalah mengurangi jumlah karyawan atau PHK.

 

Penulis : Dartwin (Mahasiswa Institut Teknologi Bandung)

Editor   : Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !