Detail Berita


Saatnya Transformasi Pertambangan?


"Ilustrasi Transformasi Pertambangan"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 28-07-2020

duniatambang.co.id - Pertambangan merupakan industri penting yang berperan sebagai oli berjalannya roda perekonomian dunia. Material seperti nikel, timah, alumunium telah menyukseskan perekonomian khususnya di China dan India dalam 10 tahun terakhir. Namun, industri tambang tengah mengalami kondisi yang kurang baik dengan tidak stabilnya harga beberapa komoditi seperti batubara, emas, dan beberapa hasil tambang lainnya. Pandemi COVID-19 menyebabkan permintaan terhadap beberapa komoditas menurun.

Walaupun pelaku industri tambang percaya bahwa masalah permintaan dan harga akan meningkat seiring pulihnya kondisi pasca pandemi COVID-19, industri ini dinilai perlu melakukan transformasi di beberapa sektor, yang akan berguna untuk restrukturisasi perusahaan dan mengurangi biaya operasional.

Baca juga: Teknologi Penambangan dengan Autonomous Haulage System di Era Digital

Beberapa transformasi yang perlu dilakukan pada industri pertambangan diantaranya sebagai berikut.

1. Shifting menuju low carbon energy

Meningkatnya konsumsi minyak sejak abad ke 18, membuahkan beberapa hasil kurang menyenangkan. Diantaranya adalah minyak sebagai bahan bakar kendaraan yang menghasilkan gas emisi rumah kaca terbesar di dunia. Kondisi ini mengakibatkan kampanye energi bersih terjadi di beberapa negara. Munculnya beberapa kendaraan Battery Electric Vehicle dan Fuel Cell. Electric vehicle dinilai menguntungkan industri pertambangan, karena mobil elektrik membutuhkan material seperti lithium (BEV), dan platina (FCV). Namun, perusahaan tambang juga wajib untuk mengurangi emisi dari pengoperasian yang dilakukan. Pengoperasian armada truk bertenaga listrik atau hidrogen dan mengintegrasikan daur ulang dalam rantai nilai mereka menjadi solusi yang baik untuk menjual mineral premium rendah karbon.

2. Cara untuk mendapatkan modal pertambangan

Untuk membatasi risiko, perusahaan tambang perlu melakukan inovasi dalam hal model pembiayaan dan produksi. Ledakan komoditas yang dilakukan oleh China pada awal abad ke 21 menyebabkan turunnya komoditas harga dan perusahaan tambang menjadi terfokuskan untuk mengurangi rasio utang dan memperbaiki neraca. Solusi pembiayaan alternatif yang sudah dikembangkan diantaranya perjanjian royalti dan metal stream agreements yang dapat mengurangi beban pada neraca perdagangan perusahaan tambang.

3. Kontrak sosial terhadap masyarakat sekitar

Menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat di dekat lokasi tambang akan menjadi kunci keberhasilan proyek tambang di masa depan. Walaupun di Indonesia, berdasarkan UU minerba baru Nomor 3 Tahun 2020 mengatakan bahwa perizinan IUPK berada di pusat, namun dukungan masyarakat sekitar tetap diperlukan untuk menjaga reputasi sebuah perusahaan tambang. Masyarakat sekitar perlu diuntungkan atau bahkan dilibatkan untuk restrukturisasi kegiatan pasca tambang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut. Bila hal ini tidak masif dilakukan, dikhawatirkan akan meningkatnya oposisi lokal yang menentang kegiatan pertambangan.

4. Kemampuan digitalisasi melalui Big Data

Transparansi data sangat dibutuhkan untuk menghubungkan industri pertambangan dengan pemangku kepentingan seperti pemerintah. Contohnya adalah program Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) dalam membuat real-monitoring system untuk tambang batubara. Keahlian data science untuk menyukseskan program ini dan memberikan transparansi data khususnya kepada masyarakat. Selain itu, untuk melakukan digitalisasi pertambangan, data science juga sangat dibutuhkan untuk melakukan input data produksi yang valid dan sesuai. Keuntungan perusahaan tambang dengan melakukan digitalisasi pertambangan antara lain adalah:

• Mengurangi biaya modal, meminimalisasi risiko dan menjaga proyek agar sesuai jadwal.
• Memungkinkan integrasi data kontrol dan pemantauan dari berbagai sumber.
• Bimbing keputusan sehari-hari dan strategis dengan data waktu nyata dan historis per target yang ditentukan.
• Cepat menyelesaikan dan memprediksi situasi yang tidak diinginkan menggunakan algoritma, pemodelan, analisis, bantuan ahli jarak jauh yang kompeten.

5. Menciptakan Tenaga kerja pertambangan yang modern

Teknologi dan model bisnis yang terus berkembang akan membutuhkan karyawan perusahaan pertambangan dengan keterampilan baru. Sektor ini harus semakin bersaing dengan sektor sistem informasi untuk menarik talenta-talenta top dari universitas untuk mendorong proses digitalisasi dan otomasinya. Pemerintah dan perusahaan harus bekerja sama untuk membantu pekerja transisi yang tidak dapat diserap oleh sektor otomatisasi pertambangan untuk kegiatan baru melalui program pelatihan ulang dan transisi. Kecepatan di mana perusahaan pertambangan dapat meluncurkan teknologi baru akan terkait erat dengan pengurangan kesempatan kerja. Dengan demikian, para pekerja ini perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan seputar transisi dan dalam menyusun kebijakan untuk mendukung mereka yang akan terkena dampak negatif.

 

Penulis : Ario Bhismo Nugroho (Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

Editor    : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !