Detail Berita


Industri Tambang : Pantang PHK Meski Diterjang Wabah


"Coal stockpile"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 23-07-2020

duniatambang.co.id - Banyak kegiatan pertambangan yang harus mengalami kendala akibat dari wabah Covid19 yang hingga kini belum bisa diketahui kapan akan berakhir. Mulai dari sejumlah proyek pembangunan fasilitas tambang seperti smelter hingga rontoknya harga komoditas baik di pasar lokal dan global.

Meski diterjang banyak masalah di atas, industri pertambangan dianggap masih sangat kuat. Hal ini terbukti dari tidak adanya aksi PHK massal yang dilakukan perusahaan tambang terhadap karyawan. Sektor pertambangan pun dianggap memberikan andil cukup besar membantu pemerintah dalam menekan angka PHK saat wabah Covid19 terjadi.

Hingga Juni 2020, pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja mengumumkan laporan mereka terkait angka PHK massal. Dari data tersebut, diketahui ada sekitar 3 juta kasus PHK oleh perusahaan dari berbagai sektor terhadap karyawannya. Pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengaku cukup lega, sebab dari data tersebut tidak ada perusahaan tambang yang tercatat.

Padahal menurut pihak Kementerian ESDM, sektor tambang sudah sangat berat menerima bertubi-tubi hantaman dari dampak wabah Covid19. Sebab dari data Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) target untuk tahun ini diprediksi tidak akan tercapai dan mengalami penurunan hingga 20 persen menjadi Rp 38 triliun dibandingkan tahun lalu yang mampu mencapai angka Rp 45 triliun.

Lebih lanjut terkait prediksi penurunan target PNBP itu diakibatkan oleh turunnya harga batubara secara global sejak Februari lalu. Dengan demikian berarti banyak perusahaan tambang batubara yang bakal mengalami kehilangan potensi laba karena harga batubara yang anjlok dalam kurun waktu yang cukup lama.

Sebagai informasi, PNBP terbesar hingga saat ini masih dipegang oleh industri batubara sebagai penyumbang terbesarnya. Pendapatan tersebut meliputi hasil dari iuran tetap, royalti, dan juga hasil penjualan komoditas tambang.

Selain dari komoditas batubara, tambang emas juga memberikan sumbangsih yang cukup besar. Pihak Kementerian ESDM menjelaskan bahwa saat ini ada 28 perusahaan tambang emas yang beroperasi, namun hanya PT Freeport Indonesia yang memberikan kontribusi paling besar.

Sayangnya, pihak Freeport sendiri saat ini juga tengah dilanda sejumlah permasalahan akibat wabah Covid19. Selain proyek smelter yang harus tertunda, peralihan proses penambangan dari open pit ke penambangan bawah tanah, membuat produksi emas Freeport mengalami penurunan yang cukup signifikan.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor    : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !