Detail Berita


Keunggulan Underground Coal Gasification, Konversi Batubara Menjadi Gas di Dalam Tanah


"Ilustrasi pembangkit listrik menggunakan teknologi UCG"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 14-07-2020

duniatambang.co.id - Batubara yang sering disebut sebagai emas hitam merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat kita temukan di Indonesia. Saat ini, penggunaan batubara sebagai pembangkit listrik juga termasuk yang paling tinggi dibandingkan sumberdaya lainnya karena harganya yang relatif murah.

Namun, tahukah Sobat , batubara yang identik dengan hasil tambang berupa batuan berwarna hitam ternyata dapat diubah bentuknya menjadi gas di dalam tanah? Teknik tersebut dikenal dengan nama underground coal gasification (UCG). UCG merupakan teknologi pemanfaatan batubara yang dilakukan melalui konversi batubara secara in-situ dengan cara menyuntikkan oksigen melalui sumur injeksi untuk membakar lapisan batubara, yang kemudian dihasilkan gas untuk dialirkan melalui sumur produksi. Lalu apa saja keunggulan UCG dibandingkan dengan tambang batubara konvensional?

Yang pertama adalah penambangan konvensional dapat diganti dengan UCG untuk mengurangi biaya operasional, kerusakan perukaan, mengurangi mining safety issues, dan tidak memerlukan fasilitas gasifikasi di permukaan. secara tidak langsung, teknologi UCG memungkinkan suatu perusahan tambang untuk memangkas biaya sehingga biaya tersebut dapat diinvestasikan untuk hal lainnya. Kemudian, tambang batubara yang sebelumnya tidak ditambang karena dianggap tidak begitu ekonomis dapat dimanfaatkan dengan teknologi UCG karena modal awal yang tidak sebesar tambang konvensional sehingga nantinya dapat meningkatkan ketersediaan sumberdaya domestik.

Yang kedua adalah UCG dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan batubara konvensional. Hal ini dikarenakan proses pembakaran pada UCG dilakukan di bawah permukaan, sehingga abu atau sisa pembakaran tidak akan mencemari udara karena tetap berada di bawah tanah. Selain itu, teknologi UCG juga dianggap berperan dalam proses pengurangan SOX, NOX, dan gas polutan lainnya sehingga efek rumah kaca akibat sektor pertambangan dapat berkurang. Selain itu, sumur UCG dapat dimanfaatkan kembali untuk teknologi carbon capture storage (CCS) yang merupakan teknologi yang cukup digaungkan saat ini untuk penurunan pembuangan gas karbon ke udara bebas.

Walaupun UCG terlihat lebih unggul dibandingkan tambang batubara konvensional, bukan berarti UCG tidak memiliki hambat dalam pengembangannya. Teknologi UCG memungkinkan terjadinya subsidence atau ambelsan akibat adanya kekosongan massa batuan di bawah permukaan akibat pembakaran lapisan batubara. Teknik mitiigasi yang tepat harus selalu disiapkan untuk mengantisipasi hal ini, seperti memastikan area batubara tidak berada pada lokasi patahan, melakukan zonasi agar dampak dari amblesan tidak begitu dirasakan warga sekitar, dan melakukan instalasi pilar bawah permukaan. Selain itu, UCG memerlukan teknologi yang tinggi sehingga memerlukan sumberdaya manusia yang unggul untuk dipersiapkan agar pemanfaatan UCG dapat berjalan optimal.

 

Penulis : William Jhanesta (Mahasiswa Universitas Indonesia)

Editor  : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !