Detail Berita


Perjuangan Tiga Srikandi Indonesia dalam Divestasi Saham Freeport


"Tambang PT Freeport Indonesia"
Sumber gambar: ptfi.co.id


Tanggal terbit: 06-07-2020

duniatambang.co.id - Proses divestasi atau pengambilalihan sebagian besar saham PT Freeport ke pemerintah Indonesia dianggap sebagai salah satu proses divestasi terumit sepanjang sejarah pertambangan negeri ini.

Publik tidak banyak yang tahu, bahwa dibalik kerumitan peralihan saham itu ada tiga sosok perempuan yang berjuang mensukseskan proses divestasi sebaik mungkin namun di sisi lain harus tetap patuh terhadap regulasi yang ada. Ketiga perempuan hebat itu adalah Sri Mulyani, Rini Soemarno dan Siti Nurbaya.

Tugas utama mereka adalah menagih janji PT Freeport yang sudah dibahas bersama presiden-presiden Indonesia sebelumnya, yang tak kunjung dieksekusi. Sejumlah janji yang sudah dilontarkan PT Freeport itu yakni, divestasi saham, pembangunan smelter dan perubahan dari sistem kontrak karya tahun 1971 ke UU Minerba tahun 2009.

Secara garis besar, induk perusahaan Freeport dituntut dengan segera mungkin melunasi janji mereka tersebut kepada pemerintah Indonesia.

Sri Mulyani saat itu sangat aktif melakukan sejumlah lobby dengan pihak Freeport agar mereka mau memenuhi janji mereka. Tak ada satu media pun saat itu yang tidak memuat nama Sri Mulyani pada setiap berita tentang peralihan saham dari Freeport ke pemerintah Indonesia.

Rini Soemarno juga cukup disibukkan dengan proses divestasi tersebut. Dirinya cukup peka melihat kondisi Freeport saat itu yang dianggap penuh dengan omong kosong. Janji emas pengalihan saham tanpa pembayaran memang bisa dilakukan pada tahun 2021.

Namun alih-alih mendapatkan keseluruhan, Rini melihat adanya kemungkinan teknologi tetap dikuasai asing dan tidak dilimpahkan ke pemerintah Indonesia. Hal itu belum termasuk tuntutan hukum yang bersembunyi dan siap menjerat pemerintah kapan saja.

Meski kasus tersebut dibawa ke ranah mahkamah internasional, kemungkinan menang hanya sebesar 40 persen. Jadi saat itu pemerintah memilih untuk melakukan negosiasi lebih dalam secara rasional agar peralihan bisa didapat secara maksimal. Walaupun di lapangan negosiasi tetap berjalan alot.

Angin segar datang dari riwayat Rini yang pernah menjabat sebagai CEO Astra International dan mampu menyelamatkan perusahaan itu dari kebangkrutan. Rupanya salah satu pemegang saham terbesar di Freeport itu adalah Capital Research & Management Co yang juga menjadi investor Astra saat Rini menjabat.

Lobby pun menjadi semakin mudah dari sini. Sebab pihak Capital Research mampu meyakinkan jajaran petinggi Freeport dan proses negosiasi peralihan saham pun semakin melunak. Awalnya pemerintah hanya ingin mengambil alih 42 persen saham Freeport-McMoran, namun ternyata diketahui saham yang dimiliki hanyalah 51 persen, bukan 91 persen seperti yang diketahui di awal. Hingga akhirnya seluruh saham McMoran sebesar 51 persen akhirnya menjadi milik pemerintah Indonesia.

Lalu nama Siti Nurbaya yang menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga memegang peranan penting. Dirinya bertugas untuk memastikan jika Freeport mengikuti peraturan mengenai kelestarian lingkungan hidup agar tidak membahayakan pemerintah Indonesia ketika perusahaan itu tidak lagi berada di tanah air.

Dirinya membentuk dan menurunkan tim khusus yang mengawal kesepakatan bidang lingkungan bersama pihak Freeport. Siti menekankan kepada Freeport bahwa masalah kelestarian lingkungan hidup menjadi syarat mutlak yang wajib dipenuhi dalam proses divestasi.

Meski awalnya berjalan cukup alot, pada akhirnya kedua belah pihak mencapai kesepakatan bersama. Hal tersebut diwujudkan dalam penandatanganan HoA pada tanggal 27 Agustus 2017.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor    : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !