Detail Berita


Terhambat Covid-19, Target Proyek Tambang Emas Ancora Resources Harus Mundur


"Gold"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 02-07-2020

duniatambang.co.id - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) saat ini tengah fokus menggarap ekspansi bisnisnya berupa tambang emas yang berlokasi di Lombok Barat. Tambang emas dengan luas konsensi wilayah sebesar 10.088 ha itu sebelumnya dijadwalkan akan mulai berproduksi pada 2021 mendatang. Namun, nampaknya target tersebut harus mundur menjadi 2022 mendatang.

Sebagai informasi, tambang emas ini digarap OKAS melalui anak usahanya yaitu PT Indotan Lombok Barat Bangkit (ILBB). Tambang emas ini memiliki tiga site yaitu site Raja, site Selodong, dan site Mencanggah. Dimana site pertama yang ditargetkan dapat beroperasi adalah site Raja dengan cadangan emas sebesar 322.000 ons troi. 

Sebelumnya, tambang emas ini sudah mendapatkan Izin Usaha Penambangan Operasi Produksi (IUP OP) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang berlaku 20 tahun dan dapat diperpanjang 2x10 tahun pada Januari 2019 silam. Selain itu, proyek ini juga sudah mengantongi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk kegiatan Operasi Produksi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 13 Desember 2019 dengan luas area produksi yang disetujui seluas 172,51 hektare (ha).

Menurut jadwal yang direncanakan sebelumnya, proyek ini akan memasuki tahap selanjutnya yaitu aktivitas penetapan batas area kerja. Namun, karena adanya pandemi covid-19 dan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menyebabkan tim dari KLHK dan Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) belum dapat menuntaskan tahap penetapan batas area kerja pada proyek tambang emas OKAS ini. Pihak KLHK dan Dinas Kehutanan NTB masih harus menunda penetapan batas area kerja tersebut hingga keadaan dan kondisi membaik.

Setelah tahap penetapan batas area kerja dari KLHK dan Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) rampung, selanjutnya proyek tambang emas OKAS ini akan memasuki proses drilling eksplorasi tambahan untuk pembuatan dokumen Joint Ore Reserves Committee (JORC). Lalu, dilanjutkan dengan pembuatan desain dan pengerjaan fasilitas pengolahan emas hingga menghasilkan bullion. Pengerjaan proyek ini ditaksir menelan US$ 30-US$ 35 juta.

Direktur Utama OKAS Rolaw P. Samosir pun mengatakan pandemi covid-19 ini membuat timeline pengerjaan proyek tambang emas yang telah dibuat sebelumnya harus sedikit bergeser. Dirinya pun menjelaskan bahwa pihak OKAS memproyeksikan tambang emas ini dapat beroperasi pada kuartal II 2022 mendatang.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Ocky PR

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !