Detail Berita


Sejumlah Emiten Tambang Bakal Habis Kontrak, Mana Yang Paling Prospek?


"Coal Mining"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 22-06-2020

duniatambang.co.id - Jika merujuk pada data yang dimiliki oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), setidaknya diketahui ada tujuh tambang besar yang saat ini sedang menunggu kepastian pembaruan Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) serta perubahan status perijinan menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK-OP).

Empat nama perusahaan tambang yang sedang menanti perpanjangan kontrak itu merupakan perusahaan terbuka yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Keempat nama perusahaan itu antara lain, PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, PT Indika Energy, dan PT Adaro Energy.

PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal yang merupakan anak usaha dari PT Bumi Resources diketahui masa kontraknya bakal habis per tanggal 1 November 2020 dan 31 Desember 2021. Pihak Bumi Resources pun berharap keputusan perpanjangan kontrak itu bisa keluar setidaknya pada kuartal ketiga tahun ini.

Sementara itu izin pertambangan milik PT Adaro Indonesia yang berada di bawah bendera PT Adaro Energy, masa kontraknya bakal berakhir per tanggal 1 Oktober 2022 mendatang. Lalu ada PT Indika Energy dengan anak usaha PT Kideco Jaya Agung yang juga akan berakhir masa kontraknya per tanggal 13 Maret 2023 nanti.

Berdasarkan pengamatan sejumlah pakar sekuritas, dari sejumlah nama itu adalah PT Adaro Energy yang dianggap memiliki prospek paling cerah. Prospek cerah itu berasal dari anak usaha perusahaan yakni, Kestrel Coal Mine yang sedang fokus dalam produksi Coking Coal atau batubara kokas. Dari laporan produksi kuartal pertama tahun ini, Kestrel Coal Mine telah memproduksi batubara kokas sebanyak 1,89 juta ton dan penjualannya menyasar pasar negara Asia, dan yang terbesar adalah India.

Namun meski demikian, jika melihat kondisi pada harga batubara yang masih tertekan hingga akhir tahun, diperkirakan kinerja pendapatan Adaro Energy bakal stagnan. Sementera proyeksi pendapatan perusahaan pada tahun 2020 ini sekitar USD 3,3 miliar, dan untuk pendapatan bersih sekitar USD 490 juta.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor    : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !