Detail Berita


Mengenal Geologi Daerah Martapura, Kota Penghasil Berlian di Indonesia


"Kemilau Kota Martapura Kalimantan Selatan"
Sumber gambar: getborneo.com


Tanggal terbit: 22-06-2020

duniatambang.co.id - Martapura sebagai salah satu kota di Kalimantan Selatan menjadi geger setelah sekitar tahun 1960  ditemukan sebuah berlian seberat 166,75 karat yang dipimpin  langsung oleh H.Madslam  dan 24 pendulang lainnya. Selanjutnya, Presiden Soekarno memberi nama  berlian itu dengan nama intan trisakti. Berlian yang ditemukan di pendulangan  Intan Sungai Tiung, Kecamatan cempaka,  Kabupaten Banjar, Kalimantan selatan  itu ditaksir memiliki harga senilai 10 triliun rupiah.

Berbicara tentang berlian, erat kaitannya dengan kimberlit, yaitu batuan vulkanik yang mengandung kalium. Batuan ini dikategorikan sebagai batuan vulkanik  potasik. Kimberlit sendiri diberi nama dari Kimberly, yaitu salah  satu daerah pertama penghasil berlian di Afrika Selatan dan sampai sekarang menjadi tambang berlian terbesar di Dunia.

Secara genesis berlian dapat berasosiasi dengan batuan ini sebagai akibat dari pembentukan yang berada di mantel bumi bagian dalam (150 km sampai 450 km), sehingga tejadi erupsi dalam yang berulang dan terus-menerus, kadang diselingi dengan kehadiran karbon dioksida dan material volatile lainnya. Beberapa faktor inilah dan juga didukung tingkat peleburan dari kedalaman membuat kimberlit  sangat potensial untuk mengandung xenochrist berlian.

Martapura secara geologi  memiliki  hubungan yang sangat erat dengan pegunungan meratus, seakan-akan keduanya tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan intan yang ada didalamnya. Rangkaian pegunungan meratus  secara fisiografi berada di timur dan tenggara dari dataran Martapura dan memanjang dengan  orientasi timur laut- barat daya di sepanjang Kalimantan selatan merupaakan salah satu kunci yang diambil korelasinya  dengan batuan yang memiliki umur paleozoikum. Permasalahan dari kalangan geologist muncul ketika rangkaian pegunungan meratus tidak sama sekali memiliki asosiasi dengan batuan kimberlit seperti layaknya di Afrka Selatan, melainkan pegunungan meratus tersusun dari komplek  ofiolit yang  merupakan  campur-aduk bebatuan dari Dunit, lerzollit, Harzburgit, eclogit  dan beberapa batuan  ultramfik dalam lainnya.

Kondisi geologi Martapura yang masuk daerah  regional Banjarbaru, diawali pada zaman  Jura (sekitar 201,3 juta tahun lalu) dimana terebentuknya batuan metamorf dan batuan dasar ophiolit yang dilanjutkan dengan adanya  fase sedimentasi dari  formasi Keramaian yang berumur  kapur (sekitar 146 juta tahun yang lalu). Selanjutnya lelehan lava yan bersifat andesitis dan basalatis berumur Kapur dari  yang tercampur  dengaan  proses sedimentasi  selama dari Kapur hingga tersier  sampai kuarter memiliki peranan tersendiri dalam menghasilkan intan yang ada di daerah ini. Asosiasi yang terbentuk dari lava kapur dengan sedimen kapur dan sedimen yang lebih muda diatasnya, mampu mengindikasikan adanya pembentukan intan secara vulkanis hydrothermal yang memungkin munculnya asosiasi Intan sekunder , Tourmaline, Blue safire, Yade, Zircon dan kemungkinan corundum (Mustofa, 2005).

Secara keseluruhan, tipe bahan galian yang ditemukan pada daerah martapura bertipe placer (endapan) yang terbawa bersama-sama sedimen sungai  dibuktikan banyak ditemukan di sungai yang berhulu dari pegunungan Meratus, sehingga kemungkinan besar sumber dari material intan  ini berada disalah satu pegunungan Meratus yang merupakan  rangkaian  ofiolit. Hal ini sanagat berbeda dengan kondisi geologi di afrika selatan dimana sumber material berupa Kimberlit. Namun ini dapat dianalogikan  dimana kimberlit sendiri rata-rata memiliki umur sekitar 70 hingga 150 juta tahun yang lalu, bahakan ada sekitar 1.200 tahun yang lalu dan hanya ditemukan di daerah kratonik, yaitu daerah kerak benua yang terjaga daan sanagagat minim kondisi tektonik untuk  terubah  lagi dalam waktu yang  sangat lama, hal ini mirip dengan kondisi pulau Kalimantan yang lumayan stabil secara tatanan  tektonik sehingga dikategorikan  pula sebagai kratonik, meskipun  masih  terjadi perbedaan pendapat dalam kalangan ahli geologi dalam penggolongan Kalimantan sebagai Kratonik.

Beberapa pendekatan kondisi geologi diatas dapat menjadi bahan acuan dalam eksplorasi pengembangan Intan yang ada di Martapura, meskipun masih banyak perdebatan dengan asal  dari intan di Martapura, apakah merupakan hasil dari ofiolit  dari rangkaian pegunungan meratus, atau dari material batuan yang lain yang tternyata ikut menyususn rangkaian  pegunungan meratus ini. Para ahli masih  sepakat bahwa sumber placer intan berasalah dari rangkaian  pegunungan meratus ibuktikan dari hulu sungai sebagai pembawa placer, namun perlu dikaji lebih lanjut komposisi apa yang terdapat pada rangkaian pegunungan meratus sehingga mampu menghasilkan berlian di Martapura.

 

Penulis : Fadlan Nursiwan

Editor   : Hazred Umar Fathan

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !