Detail Berita


Strategi PTBA, INDY dan ADRO di Tengah Seretnya Pasar Domestik


"Coal"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 18-06-2020

duniatambang.co.id - Tantangan yang dihadapi sejumlah emiten batubara dalam negeri semakin bertambah. Wabah pandemi tak hanya membuat kinerja serta penjualan terganggu, namun juga memiliki efek domino yang cukup besar. Harga Batubara Acuan yang seperti enggan bangkit dan terus terpuruk, ditambah dengan serapan pasar domestik yang diprediksi bakal lebih lemah dari pasar, membuat perusahaan batubara harus berpikir lebih keras. Langkah dan kebijakan yang efektif, efisien dan produktif harus benar-benar bisa dimunculkan dan diterapkan dengan semaksimal mungkin, agar bisa tetap bertahan.

PT Bukit Asam Tbk misalnya, menyebut kinerja perusahaan selama kuartal berjalan pada tahun ini diprediksi tidak akan sebaik pada tahun-tahun sebelumnya. Permintaan dan harga batubara disebut sebagai faktor utama penyebabnya. Lebih jauh, diperkirakan permintaan pasokan batubara hanya akan mencapai 100 juta ton saja. Angka ini jauh berada di bawah target yang telah dicanangkan pemerintah sebesar 155 juta ton. Padahal sudah diketahui oleh umum pasar batubara dalam negeri selama ini telah memberikan kontribusi sekitar 65 persen dari total penjualan PT Bukit Asam.

Namun meski demikian, perusahaan masih tetap berada pada target dan panduan kerja yang telah dicanangkan pada awal tahun. Pihaknya juga tetap optimis jika kinerja perusahaan secara umum bakal mendapatkan rapor hijau. Kemungkinan sangat besar bisa terjadi peningkatan pada produksi dan angkutan untuk bulan April secara year on year. Perusahaan pun juga akan berfokus pada sejumlah negara potensial seperti Vietnam, Thailand, Brunei Darussalam, Korea Selatan hingga Hongkong sebagai target pasar baru. Hal ini guna mendukung penjualan pada kuartal kedua tahun ini.

Di lain pihak, PT Indika Energy Tbk menyebut penurunan permintaan batubara untuk pasar dalam negeri bukan merupakan masalah besar bagi perusahaan. Sebab pihaknya sudah memiliki kontrak jangka panjang untuk pasar domestik dan juga sudah mengalokasikan sebanyak 30 persen hasil produksi untuk menyuplainya.

Sementara sebagai langkah kebijakan dalam kondisi seperti ini, PT Indika Energy memilih untuk lebih fokus pada pengendalian biaya untuk proses produksi dan operasional lainnya sebagai kebijakan untuk recovery kinerja akibat wabah pandemi.

PT Adaro Energy juga tetap akan berada pada rencana awal perusahaan untuk mempertahankan kinerja melalui model bisnis yang telah terintegrasi. Pihaknya juga berfokus pada efisiensi kinerja namun dengan tetap memperhatikan kesehatan dan keselamatan pekerja, agar operasional tetap berjalan.

Adaro juga tetap mempertahankan target produksi yang berada di level 54 sampai 58 juta ton, Capital Expenditure (Capex) di angka USD 400 juta serta EBITDA operasional mencapai USD 1,2 miliar.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor    : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !