Detail Berita


Liquid Coal, Batubara Sebagai Energi Bahan Bakar Cair Pengganti Minyak


"Pembakaran Batubara"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 17-06-2020

duniatambang.co.id - Liquid coal atau batubara cair adalah teknologi yang mulai dikenalkan sejak 1920. Awalnya dimulai dari Negara Jerman,yang sama sekali tidak memiliki lapangan minyak konvensional, namun mampu memenuhi energi bahan bakar cair untuk kebeutuhan perang.  Jerman mampu menyuplai sangat banyak bahan bakar cair untuk tank, kapal, truk, peswat serta mobil perang berbaja lainnya, puncaknya dari 1939  hingga 1945 yang mampu memproduksi hingga 18 juta metric ton bahan bakar cair dari batubara dan aspal.

Hal serupa dikembangkan di Afrika Selatan selama politik apartheid berlangsung, dimana Afrika selatan dilarang  untuk mengimpor bahan bakar cair, namun selama periode pemblokadean tersebut, masih banyak mobil serta kendaran yang beroperasi, yang mana sumber bahan bakar berasal dari proses CTL (coal to liquid). Sampai  saat ini  Afrika Selatan mampu menghasilkan 160000 bbl/day.

Pengembangan liquid coal pada awalnya memiliki konsep yang sangat sederhana yang menganalogikan bahwa batubara kandungannya hampir mirip dengan energi fosil. Batubara yang akan diolah mengandung karbon, namun tetap  terdapat hydrogen seperti yang dimiliki oleh minyak.

Baca juga: Gasifikasi Batubara, Begini Proses Pengubahan Batubara Menjadi Gas

Proses yang pertama kali dilakukan adalah melakukan gasifikasi pada batubara dengan pembakaran yang menggunakan  sedikit oksigen dan beberapa uap air, lalu akan didapatkan campuran  gas hydrogen, karbon  monoksida, karbon dioksida dan juga oksida pengotor lain yang biasanya ditemukan sebagai pengotor di batubara,  selanjutnya sebelum gas tersebut dilakukan proses sintesis katalik, gas harus dalam keadan steril dan dimurnikan terlebih  dahulu, maka akan terbentuk cairan hidrokarbon dengan panjang rantai  karbon yang baik

Dalam proses pembuatannya,  1 ton batubara mampu menghasilkan 2,5 barel bahan bakar, dimana dalam pembuatan menjadi liquid coal  tersebut hanya sekitar 30 hingga 40% batubara yang terpakai, karena pada proses pembuatannya, 50% hilang pada prose pencairan, lalu 10% hingga 20% hilang pada proses penangkapan antar molekul molekul ikatan hidrokarbon, proses pemurnian serta pengikatan antar molekul inilah yang  membuat liquid coal memiliki daya efesiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan energi konvensional.

Pengembangan energi liquid coal membutuhkan invesasi yang besar dan kepastian jangka panjang yang tinggi. Dalam pembangunan infrastruktur pengolahan liquid  coal saja  memakan biaya yang sangat tinggi. Selain itu, perlu  sumber daya lahan yang sangat besar, dampak yang paling cepat terasa adalah perubahan terhadap keaanekaragaman hayati sekitar akibat proses proses kimiawi dalam jumlah yang sangat besar sehingga perlu tatanan serta perancangan yangt  tertara agar tetap aman dan  produktif.

Sisi posisi penggunaan liquid coal sebagai  bahan bakar dianggap lebih murah, selain itu pula proses katalik guna pencairan batubara yang mana terjadi reaksi penangkapan dan penyimpanan karbon, memberikan peluang yang tinggi untuk menghasilkan bahan bakar untuk kendaraan yang memiliki kandungan emisi gas rumah kaca yang hampir mendekati nol.

 

Penulis : Fadlan Nursiwan

Editor   : Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !