Detail Berita


Optimis Dikabulkan, Arutmin dan KPC Sudah Ajukan Perpanjangan Kontrak


"Penambangan Batubara PT Kaltim Prima Coal"
Sumber gambar: kpc.co.id


Tanggal terbit: 16-06-2020

duniatambang.co.id - Dua perusahaan tambang raksasa milik Grup Bakrie di bawah naungan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yaitu PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) tengah menunggu nasib perpanjangan kontrak dan perubahan status dari pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Kedua perusahaan tambang tersebut merupakan salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia.

Direktur dan Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava mengaku pihaknya cukup optimis kedua perusahaan milik Grup Bakrie ini akan mendapatkan perpanjangan kontrak. Namun, hingga kini pihak BUMI belum mau membeberkan Rencana Kerja Seluruh Wilayah (RKSW) yang diajukan Arutmin maupun KPC, termasuk mengenai luasan wilayah yang diajukan oleh kedua perusahaan produsen batubara raksasa tersebut.

PT Arutmin Indonesia

Lokasi tambang Arutmin berada di Satui, Senakin, Batulicin, dan Asam-asam, Kalimantan Selatan dengan luas area konsensi mencapai 57.107 hektare (ha). PT Arutmin Indonesia memiliki kontrak PKP2B yang akan berakhir pada 1 November 2020. Jika melansir data dari Joint Ore Reserves Commite (JORC) per Maret 2018, cadangan batubara Arutmin mencapai 213 juta ton dan memiliki sumber daya sebesar 1,66 miliar ton.

Arutmin telah mengajukan perpanjangan kontrak dan permohonan perubahan status menjadi IUPK pada Oktober 2019 lalu. Jika menelisik jauh kebelakang, Arutmin menandatangani PKP2B pada 2 November 1981. Lalu, Arutmin mulai beroperasi pada 2 November 1990. Lalu seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan UU Minerba, Pada 14 November 2017, Arutmin dan pemerintah menandatangani penyesuaian Coal Cooperation Agreement (CCA) sesuai ketentuan Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang berlaku pada saat itu.

PT Kaltim Prima Coal (KPC)

KPC merupakan perusahaan tambang batubara raksasa yang tergabung dalam Grup Bakrie. KPC berlokasi di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur dengan luas wilayah mencapai 90.938 hektare (ha). Kontrak KPC akan berakhir pada 31 Desember 2021 mendatang. Jika melansir data dari Joint Ore Reserves Commite (JORC) per Maret 2018, KPC masih memiliki cadangan sebanyak 1,07 miliar ton dan sumber daya sebesar 6,9 miliar ton. KPC merupakan salah satu perusahaan yang telah cukup lama beroperasi. KPC menandatangani PKP2B pada tahun 1982. KPC melakukan kegiatan eksplorasi pada 1982-1986, lalu pada 1989 KPC mulai melakukan kegiatan konstruksi dengan total investasi sebesar US$ 570 juta. Setelah perjalanan cukup panjang, KPC pun memulai kegiatan penambangan pada Juni 1990.

Arutmin dan KPC merupakan perusahaan tambang yang memiliki porsi cukup besar bagi produksi batubara nasional. Pada tahun 2018, produksi keduanya mengambil porsi secara persentase sebesar 14,95% atau mencapai 83,3 juta ton dari total produksi batubara nasional. Sedangkan jika melihat pada tahun lalu, Arutmin dan KPC mengambil porsi sebesar 14% atau mencapai 86,3 juta ton dari total produksi batubara nasional.

Jika melihat seberapa besar kontribusi kedua anak usaha BUMI bagi produksi batubara nasional, akankah keduanya mendapat perpanjangan izin?

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !