Detail Berita


Penundaan Proyek Smelter di Gresik, Freeport Menunggu Kepastian dari Pemerintah


"Penambangan di PT Freeport Indonesia"
Sumber gambar: ptfi.co.id


Tanggal terbit: 15-06-2020

duniatambang.co.id - PT Freeport Indonesia sampai saat ini masih menunggu keputusan dari pihak Kementerian ESDM terkait permohonan penundaan proyek smelter yang sudah mereka ajukan. Seperti yang diketahui, proyek smelter yang sedang digarap oleh PT Freeport Indonesia yang ada di wilayah Gresik, Jawa Timur, terkendala wabah pandemi dan membuat proyek itu meleset dari target yang sudah ditetapkan.

Pihak Freeport mendapatkan informasi dari pihak Kementerian ESDM, jika proses pengajuan permohonan penundaan proyek smelter tersebut masih menjadi pembahasan, dan belum keluar keputusannya. Pihak Kementerian ESDM mengaku sedang membahas pengajuan penundaan proyek smelter, tidak hanya milik Freeport saja. Namun juga ada proyek smelter milik Amman Mineral yang juga diajukan penundaannya. Terlebih, ada revisi dalam UU Minerba yang baru saja disahkan, sehingga masalah ini masih harus dibahas dengan jajaran pemerintahan lainnya.

Permohonan penundaan proyek smelter milik Freeport itu, sebenarnya sudah diajukan sejak bulan April silam. Namun hingga 2 bulan berjalan, belum ada keputusan mengenai permohonan tersebut. Dalam permohonan itu, pihak Freeport mengajukan penundaan proyek smelter selama satu tahun. Sebelumnya, target pembangunan proyek smelter milik Freeport itu ditargetkan selesai pada tahun 2023. Dengan pengajuan ini, jika disetujui maka akan molor hingga tahun 2024.

Dalam mengerjakan proyek smelter di Gresik itu, PT Freeport Indonesia diketahui menggandeng perusahaan asal Jepang, Chiyoda sebagai kontraktor utama. Sementara untuk kebutuhan teknologi yang digunakan, Freeport menggandeng perusahaan asal Finlandia, yakni Outotec. Sejumlah peralatan yang dibutuhkan untuk proyek smelter itu juga didatangkan dari negara Spanyol.

Kini Freeport dan perusahaan mitra yang mengerjakan proyek smelter itu, tengah melakukan audit terkait dampak akibat wabah pandemi terhadap proyek tersebut. Mulai dari aspek waktu, tenaga kerja hingga biaya-biaya yang ditimbulkan.

Sebagai informasi, proyek smelter di Gresik itu membutuhkan biaya setidaknya USD 3 miliar. Dalam hal ini, PT Freeport Indonesia memiliki rencana untuk mendapatkan pendanaan sebesar USD 2,8 miliar dari pinjaman. Sayangnya, rencana itu terkendala oleh wabah pandemi yang kadung menyebar. Oleh karenanya, pihak Freeport terus aktif untuk membahas langkah selanjutnya dengan sejumlah bank, sambil menunggu keputusan penundaan proyek dari pemerintah.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !