Detail Berita


Lama tak Terdengar Kabar, Bagaimana Kelanjutan 183 Tcf CBM di Sumsel Saat Ini?


"Well Testing "
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 15-06-2020

duniatambang.co.id - Coalbed Methane (CBM) merupakan gas yang terbentuk dari devolatilisasi batubara hingga mengalami pemasakan atau mature. Lapisan batubara dengan peringkat rendah dan tebal diyakini merupakan tempat yang paling prospek untuk produksi CBM. Produksi gas ini dimulai dari tahun 1970-an, dengan target seam batubara pada Formasi Fruitland di Cekungan San Juan, New Mexico.

CBM merupakan salah satu solusi mengatasi krisis energi di Indonesia. Cekungan Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan daerah yang memiliki potensi CBM terbesar di Indonesia. Dilansir dari Dirjen ESDM (2009), Cekungan Sumsel memiliki potensi sebesar 183 trillion cubic feet (Tcf) dengan target utama seam batubara Formasi Muaraenim.

Eksplorasi CBM di Cekungan Sumsel sudah mulai direncanakan oleh Lemigas pada tahun 2003 dan akhirnya melakukan pemboran pada tahun 2009 di lapangan gas Rambutan, Sumsel (Sosrowidjojo et al., 2009). Selain itu beberapa perusahaan juga melakukan pengembangan CBM di Sumsel, diantaranya PT Medco CBM Lematang, PT Methanindo Energy Resources, PT Saka Energi Indonesia, PT Pertamina Hulu Energi Metana Sumatra Tanjung Enim (PHE Metra Enim), PT Bukit Asam Metana Enim dan NuEnergy Gas Ltd.

Pada tahun ini, NuEnergy selaku operator Blok Tanjung Enim sedang melakukan proyek pengembangan dan uji coba produksi di lima tempat pada blok tersebut. Hal itu dilakukan setelah mendapatkan persetujuan Plan of Development (PoD) tahap I (satu) dari SKKMigas. Di tahun pertama yang dilakukan adalah proses dewatering, sedangkan produksi gas akan mulai optimal ditahun berikutnya. Menurut mantan Direktur Pembinaan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi ESDM Ediar Usman, blok ini memiliki total cadangan gas nonkonvensional sebesar 127,93 billion standard cubic feet (Bscf) dan bisa berproduksi hingga 97,42 Bscf untuk 15 tahun kedepan. Pada tahap awal, produksi gas ditargetkan mencapai 25 million standard cubic feet per day (Mmscfd).

Dilansir dari situs resmi NuEnergy, hak kelola Blok Muara Enim sendiri 45% dimiliki oleh NuEnergy melalui anak perusahaannya Dart Energy, sedangkan sisanya dimiliki PT Pertamina PHE Metra Enim dan PT Bukit Asam Metana Enim masing-masing 27,5%. Selain Blok Tanjung Enim terdapat beberapa blok lain yang dikelola NuEnergy, diantaranya Blok Muara Enim, Blok Muara Enim II, dan Blok Muralim yang dikerjakan dengan sistem Production Sharing Contracts (PSC). Saat ini sedang dilakukan uji produksi di beberapa sumur pada Blok Muara Enim dan Muara Enim II sebagai upaya persiapan untuk pengajuan PoD selanjutnya.

 

Penulis : Shofy NF.

Editor    : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !