Detail Berita


2030, Benarkah Dunia Pertambangan Meredup?




Berdasarkan siaran pers Kemenperin yang diterbitkan di kemenperin.go.id, Jumat, (8/3/19), Indonesia memberikan sumbangsih 2,5% terhadap pertumbuhan ekonomi dunia berhasil mengungguli negara-negara besar lainnya seperti Korea Selatan, Kanada, Australia Inggris, Jepang, Rusia, dan Brasil. Artinya, Indonesia memberikan peranan penting yang patut diperhitungkan di kancah ekonomi global. Indonesia  diprediksi menjadi negara ekonomi terbesar ke-4 di dunia pada tahun 2030 berada di bawah China, India, dan Amerika Serikat yang dihitung berdasarkan nominal PDB (Produk Domestik Bruto) yang dirilis oleh Standard Chartered Plc. 

Masuknya Indonesia ke jajaran top 4 ekonomi dunia pada tahun 2030 tentu membawa angin segar bagi pelaku usaha. Semakin berkembangnya ekonomi Indonesia selaras dengan meningkatnya  perkembangan di sektor Industri yang berdampak pada kebutuhan energi yang juga semakin tinggi. Energi fosil seperti minyak, gas dan batubara masih memiliki kontribusi besar yang tidak hanya berperan sebagai penyedia energi lokal, tetapi juga sangat penting dalam menopang perekonomian nasional melalui komoditas ekspor sebagai penghasil devisa negara.

Saat ini, sektor pertambangan masih mendominasi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Khususnya di Kalimantan Timur, sektor pertambangan menyumbang 47,98% untuk perekonomian di Kalimantan Timur. Pada tahun 2030 mendatang, sektor industri perlahan akan menggeser sektor pertambangan. Untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, sektor Industri memberikan kontribusi sebesar 42%.  Sementara sektor pertambangan hanya memberikan andil sebesar 17%, disusul 10% dari sektor pertanian, dan 10% dari sektor lain disampaikan oleh Rusmidi yang dikutip pada m.kaltim.prokal.co.id pada Jumat (09/06/17).

Seperti yang dimuat pada Kontan.co.id, Rabu, 06/03/19, pada kurun waktu 2025-2050 Indonesia akan mengalami defisit minyak bumi sebesar 1,3 juta barrel perhari akbiat menurunnya produksi minyak bumi dalam negeri. Pemerintah terpaksa mengatasi kekurangan minyak bumi ini dengan melakukan impor. Akibatnya, Indonesia akan mengalami kenaikan defisit neraca perdagangan. Sebagai alternatif, pemerintah akan mengambil kebijakan untuk meningkatkan produksi batubara kalori rendah yang cadangannya 93% dari total cadangan batubara di Indonesia.

Meski saat ini cadangan batubara Indonesia masih tergolong besar, apabila terus dieksploitasi secara terus menerus pasti akan semakin minipis. Merosotnya cadangan batubara dan energi fosil lainnya menjadi tantangan besar untuk Indonesia pada tahun 2030. Untuk menghadapi tantangan tersebut, selama beberapa tahun terakhir pemerintah telah merencanakan untuk meningkatkan produksi domestik batubara. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2018-2027, target bauran energi pembangkit sebesar 54,4% dari batubara, Hal ini menunjukkan bahwa produksi batubara hingga 2025 akan mengalami peningkatan. Sementara target bauran energi pembangkit sebesar 22% dari gas  dan 0,4% dari Bahan Bakar Minyak (BBM).

Selain dari kebijakan target bauran energi fosil, pemerintah juga kian menggalakkan pembangunan smelter di Indonesia guna meningkatkan nilai jual tambang lebih dari 30%. Nikel termasuk salah satu mineral yang diharapkan dapat menjadi bahan galian masa depan Indonesia. Pembangunan smelter ini selain menambah devisa negara, juga berperan menyerap tenaga kerja lokal.

Di tengah produksi batubara yang semakin meningkat setiap tahunnya, Finlandia justru berencana menghentikan produksi batubara sebagai sumber energi pada tahun 2030. Langkah yang dipilih Finlandia ini bertujuan untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan sebagai swasembada energi dan untuk mengurangi minyak impor.

Untuk mengurangi emisi yang ditimbulkan akibat energi fosil terutama batubara, pemerintah perlu lebih giat mencanangkan pengolahan batubara bersih pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Selain itu ketergantugan terhadap penggunaan energi fosil, pemerintah telah menargetkan energi bauran dari Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025 dengan mendorong PT PLN (Persero) dan Independent Power Producer (IPP) untuk memasukkan energi terbarukan sebagai bahan bakar. Dengan memanfaatkan energi terbarukan potensial seperti geothermal, air, matahari, dan energi terbarukan lainnya dapat mendukung energi nasional pada tahun 2030.

MS