Loading...
image

"Pembakaran dalam furnace"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 10 June 2020 / 0 Komentar

Hilirisasi Pandemi Corona 

Hilirisasi Jadi Strategi Utama Pemerintah Pulihkan Ekonomi Pasca Pandemi

duniatambang.co.id – Pemerintah  melalui Kementerian Koordiator Bidang Kemaritiman dan Investasi tengah menyiapkan sejumlah kegiatan strategis untuk  menyambut era new normal. Skenario untuk menyambut pemulihan ekonomi itu, salah satunya adalah dengan melakukan hilirisasi industri, khususnya untuk industri pertambangan nasional.

Hilirisasi industri pertambangan dianggap sebagai salah satu kebijakan yang sangat strategis, untuk menarik minat para investor untuk melirik Indonesia sebagai tujuan investasi mereka. Terlebih, dengan mulai pulihnya ekonomi, membuat kesempatan dalam berinvestasi akan sangat terbuka luas. Kinerja semenjak pasca Covid, tentu akan dilakukan secara masif untuk menggenjot produksi. Di sinilah, pergerakan yang cukup besar akan terjadi. Hal ini berujung para pergerakan nilai dan harga yang rentangnya akan sangat lebar.

Saat ini dalam proses hilirisasi industri tambang yang menjadi fokus pemerintah adalah pengembangan baterai lithium. Indonesia diketahui memiliki cadangan raw material yang dibutuhkan untuk produksi baterai lithium dengan jumlah yang sangat banyak. Raw material tersebut adalah nikel dan juga kobalt yang diketahui nilai cadangannya sangat besar, tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Selama ini pesaing Indonesia dalam cadangan nikel dan kobalt adalah Filipina. Dan dalam jangka waktu dua tahun, cadangan yang dimiliki Filipina akan habis. Sementara Indonesia akan menjadi penguasa komoditas nikel dan kobalt terbesar yang akan menarik perhatian para investor dunia. Negara lain pun, akan menjadi sangat tergantung dengan Indonesia.

Besarnya cadangan bahan baku baterai lithium itu, diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan BPS. Dalam tiga tahun terakhir, nilai ekspor besi baja yang dicatat Indonesia secara stabil mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Dari data milik BPS itu, pada tahun 2017, nilai ekspor besi baja Indonesia ke luar negeri diketahui sebanyak USD 3,3 miliar. Pada tahun 2018, jumlahnya meningkat menjadi USD 5,3 miliar. Peningkatan terus dicatatkan pada tahun 2019, dengan nilai mencapai USD 7,4 miliar.

Nantinya secara optimis diprediksi akan terjadi nilai ekspor sebesar 10 kali lipat dari proyek hilirisasi tersebut. Selama ini Indonesia hanya melakukan ekspor raw material ke luar negeri, dan hal ini dicoba untuk diubah selama kepemimpinan Jokowi dalam 5 tahun terakhir dengan menggalakkan proyek hilirisasi di beberapa sektor industri.

Kesempatan itu tidak hanya hadir dari hasil pendapatan proyek hilirisasi itu saja. Namun, proyek-proyek tersebut tentunya juga akan menyerap banyak sekali tenaga kerja, yang saat ini juga dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

 

Penulis  : Edo Fernando

Editor     : Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar