Berita

Intip Gaji dan Fasilitas Pekerja Tambang

Saat ini Indonesia tengah menikmati bonus demografi yang diperkirakan akan berakhir 2036 mendatang. Adanya bonus demografi di mana populasi penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk usia tidak produktif tentu membawa keberuntungan besar bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, dapat membawa malapateka jika tidak dipersiapkan arah pembangunan sumber daya manusia terutama dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan. Dalam menentukan pekerjaan, tidak hanya passion yang menjadi pertimbangan, tetapi juga besaran gaji yang akan diterima.

Pekerjaan dengan gaji tertinggi versi glints.com pada 16 Desember 2017 adalah ahli teknik pertambangan, kemudian disusul oleh ahli perminyakan dan gas. Gaji di atas rata-rata disertai dengan fasilitas yang menunjang menjadi daya tarik para millenials untuk berkarir di bidang pertambangan. Ditambah jika dapat bekerja di perusahaan pertambangan ternama menjadi kebanggaan bagi diri sendiri maupun keluarga.

Untuk menentukan upah pekerja telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.  Bahwa upah adalah bagian penting yang harus dibayar pengusaha kepada pekerja sebagai pemenuhan hak pekerja. Dalam Undang-Undang tersebut, setiap pekerja berhak memperoleh penghidupan yang layak didasarkan pada kebutuhan hidup layak di setiap masing-masing daerah.

Kebijakan upah yang melindungi pekerja sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-Undang tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Upah minimum
  2. Upah kerja lembur
  3. Upah tidak masuk kerja karena berhalangan
  4. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya
  5. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya


Upah minimum pada setiap daerah ditetapkan oleh pemerintah setempat dan jenis sektor industri. Upah minimum di sektor industri pertambangan memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding dengan sektor industri lainnya. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja RI No. SE-07/MEN/1990 Tahun 1990 tentang Pengelompokan Komponen Upah dan Pendapatan Non Upah. Komponen pendapatan non upah terdiri dari fasilitas, bonus, dan THR.

Pekerja tambang mendapatkan fasilitas untuk meningkatkan kesejahteraan seperti tempat tinggal, kendaraan (antar jemput pekerja), pemberian makan, tempat ibadah, sarana olahraga dan lain-lain. Kemudian, bonus yang didapatkan oleh pekerja tambang merupakan keuntungan perusahaan karena produktivitas yang meningkat yang besarnya diatur sesuai kebijakan perusahaan. Bonus ini bisa mencapai berlipat kali gaji. Menjelang Hari Raya, para pekerja tambang mendapatkan THR berupa gratifikasi dan keuntungan lainnya.

Pekerja tambang yang mendapat tugas di lapangan mendapatkan gaji dan uang transportasi yang lebih besar. Bekerja di pertambangan yang menerapkan sistem roster missal 8:2, artinya 8 minggu bekerja dan 2 minggu libur, biaya untuk pulang kampung telah ditanggung oleh perusahaan.

Misalkan saja, di PT Freeport Indonesia yang merupakan penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia memberikan upah bagi para pekerja baru (fresh graduate) hingga mencapai Rp 20 juta dan sudah mencakup berbagai tunjangan. Gaji yang sangat menggiurkan bagi sarjana yang baru menyelesaikan kuliah. Selain fasilitas yang menunjang kenyamanan bagi para pekerjanya, PT Freeport juga memberikan jaminan kesehatan untuk pasangan dan anak dari para pekerjanya. Pekerja dan anak difasilitasi untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Gaji setiap pekerja di suatu perusahaan ditetapkan besarannya sesuai kebijakan perusahaan. Gaji pekerja akan mengalami peningkatan dipengaruhi oleh lamanya waktu bekerja, kompetensi yang dimiliki pekerja, beban kerja, dan prestasi yang diraih oleh para pekerja. Kalau begini, jadi tidak terbayang besaran gaji yang diterima oleh para petinggi perusahaan PT Freeport maupun perusahaan pertambangan ternama lainnya yang diperkirakan mencapai ratusan bahkan milyaran rupiah.

MS